
Peninggalan Kerajaan Singasari dan Nilai Sejarahnya – Kerajaan Singasari merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara pada abad ke-13. Kerajaan ini berpusat di Jawa Timur dan dikenal sebagai pendahulu Kerajaan Majapahit yang kelak mencapai puncak kejayaan. Singasari memiliki peran penting dalam membentuk fondasi politik, budaya, dan keagamaan di Indonesia pada masa Hindu-Buddha. Kejayaan kerajaan ini tidak hanya tercatat dalam sumber tertulis, tetapi juga dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan sejarah yang masih ada hingga kini.
Peninggalan Kerajaan Singasari berupa candi, arca, dan prasasti menjadi bukti nyata kemajuan peradaban pada masanya. Setiap peninggalan tersebut tidak hanya memiliki nilai arsitektural dan artistik, tetapi juga menyimpan makna simbolis yang mencerminkan sistem kepercayaan, struktur kekuasaan, serta kehidupan sosial masyarakat Singasari. Melalui peninggalan inilah generasi masa kini dapat memahami perjalanan sejarah dan identitas budaya bangsa.
Jenis Peninggalan Kerajaan Singasari
Peninggalan Kerajaan Singasari yang paling dikenal adalah bangunan candi dan arca yang tersebar di wilayah Jawa Timur, khususnya di sekitar Malang dan sekitarnya. Salah satu peninggalan paling terkenal adalah Candi Singosari. Candi ini diyakini sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari. Arsitektur Candi Singosari menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha, mencerminkan ajaran Siwa-Buddha yang dianut pada masa itu.
Selain Candi Singosari, terdapat pula Candi Jago atau Candi Jajaghu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan dan pendharmaan Raja Wisnuwardhana. Relief-relief yang terdapat pada candi ini menggambarkan kisah-kisah epik seperti Kunjarakarna dan Parthayajna, yang sarat dengan nilai moral dan ajaran keagamaan. Relief tersebut menjadi sumber penting untuk memahami pandangan hidup masyarakat Singasari.
Arca merupakan peninggalan lain yang memiliki nilai tinggi. Arca Prajnaparamita adalah salah satu karya seni terbaik dari masa Singasari. Arca ini menggambarkan sosok Dewi Kebijaksanaan dalam ajaran Buddha Mahayana dan diyakini sebagai perwujudan dari permaisuri Raja Kertanegara. Kehalusan pahatan dan ekspresi arca menunjukkan tingkat kemahiran seni pahat yang sangat maju.
Selain itu, terdapat arca Dwarapala yang berukuran besar dan berfungsi sebagai penjaga kawasan suci atau pintu masuk. Arca ini mencerminkan konsep perlindungan dan kekuatan dalam kepercayaan Hindu-Buddha. Keberadaan arca Dwarapala juga menunjukkan pentingnya simbolisme dalam tata ruang dan arsitektur Kerajaan Singasari.
Peninggalan berupa prasasti juga memberikan informasi berharga. Prasasti Mula Malurung, misalnya, mencatat silsilah raja-raja Singasari serta kebijakan politik yang diterapkan. Prasasti ini menjadi sumber utama bagi sejarawan untuk merekonstruksi sejarah Singasari secara lebih akurat. Melalui prasasti, diketahui bahwa Singasari memiliki sistem pemerintahan yang terorganisasi dan legitimasi kekuasaan yang kuat.
Nilai Sejarah dan Budaya Peninggalan Singasari
Peninggalan Kerajaan Singasari memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena menjadi bukti nyata keberadaan dan kejayaan kerajaan tersebut. Dari peninggalan ini, dapat dipahami bagaimana Singasari berkembang sebagai kekuatan politik dan militer yang disegani. Di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara, Singasari bahkan melakukan ekspedisi ke luar Jawa sebagai upaya memperluas pengaruhnya di Nusantara.
Nilai budaya dari peninggalan Singasari juga sangat menonjol. Perpaduan ajaran Hindu dan Buddha yang tercermin dalam bangunan dan arca menunjukkan tingkat toleransi dan sinkretisme keagamaan yang tinggi. Hal ini menjadi ciri khas kebudayaan Jawa pada masa itu dan berpengaruh hingga periode kerajaan-kerajaan selanjutnya. Konsep Siwa-Buddha yang berkembang di Singasari menjadi landasan spiritual bagi Kerajaan Majapahit.
Dari segi seni dan arsitektur, peninggalan Singasari menunjukkan kemajuan teknik dan estetika. Detail pahatan yang halus, proporsi bangunan yang seimbang, serta penggunaan simbol-simbol religius mencerminkan keahlian seniman masa lampau. Karya-karya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemujaan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai moral dan filosofi hidup.
Peninggalan Singasari juga memiliki nilai edukatif yang tinggi. Bagi generasi muda, situs dan artefak peninggalan kerajaan ini dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah yang konkret. Melalui peninggalan fisik, sejarah tidak lagi sekadar cerita dalam buku, tetapi menjadi pengalaman visual dan ruang yang nyata. Hal ini membantu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Selain itu, nilai ekonomi dan pariwisata juga melekat pada peninggalan Kerajaan Singasari. Situs-situs bersejarah menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat mendukung perekonomian daerah. Namun, pemanfaatan ini harus diimbangi dengan upaya pelestarian agar nilai sejarah dan keaslian peninggalan tetap terjaga. Pelestarian peninggalan Singasari bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat secara luas.
Kesimpulan
Peninggalan Kerajaan Singasari dan nilai sejarahnya memberikan gambaran mendalam tentang kejayaan peradaban Nusantara pada abad ke-13. Candi, arca, dan prasasti yang ditinggalkan bukan sekadar benda bersejarah, melainkan sumber pengetahuan tentang sistem kepercayaan, seni, politik, dan kehidupan sosial masyarakat Singasari. Melalui peninggalan tersebut, jejak kejayaan Singasari masih dapat dirasakan hingga masa kini.
Memahami dan melestarikan peninggalan Kerajaan Singasari berarti menjaga identitas dan jati diri bangsa. Nilai sejarah, budaya, dan edukatif yang terkandung di dalamnya menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Dengan pelestarian yang berkelanjutan dan pemanfaatan yang bijak, peninggalan Singasari dapat terus menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran dalam memahami perjalanan panjang sejarah Indonesia.